Blogger templates


Chat Online disini :)
Tampilkan postingan dengan label religius. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label religius. Tampilkan semua postingan

Jumat

BAGIAN TERPENTING

Ibuku selalu bertanya padaku apa bagian tubuh yang paling penting.
Bertahun-tahun, aku selalu menebak dengan jawaban yang aku anggap benar.

Ketika aku muda, aku pikir suara adalah yang paling penting bagi kita sebagai manusia, jadi aku jawab, "Telinga, Bu." Jawabnya, "Bukan. Banyak orang yang tuli.
Tapi, teruslah memikirkannya dan aku menanyakanmu lagi nanti."

Beberapa tahun kemudian sebelum dia bertanya padaku lagi.
Sejak jawaban pertama, kini aku yakin jawaban kali ini pasti benar.
Jadi, kali ini aku memberitahukannya, "Bu, penglihatan sangat penting bagi semua orang, jadi pastilah mata kita." Dia memandangku dan berkata,
"Kamu belajar dengan cepat, tapi jawabanmu masih salah karena banyak orang yang buta."

Gagal lagi, aku meneruskan usahaku mencari jawaban baru dan dari tahun ke tahun, Ibu terus bertanya padaku beberapa kali dan jawaban dia selalu, "Bukan. Tapi, kamu makin pandai dari tahun ke tahun, anakku."

Akhirnya tahun lalu, kakekku meninggal. Semua keluarga sedih. Semua menangis. Bahkan, ayahku menangis. Aku sangat ingat itu karena itulah saat kedua kalinya aku melihatnya menangis.
Ibuku memandangku ketika tiba giliranku untuk mengucapkan selamat tinggal pada kakek.

Dia bertanya padaku, "Apakah kamu sudah tahu apa bagian tubuh yang paling penting, sayang?" Aku terkejut ketika Ibu bertanya pada saat seperti ini. Aku sering berpikir, ini hanyalah permainan antara Ibu dan aku.

Ibu melihat kebingungan di wajahku dan memberitahuku,"Pertanyaan ini penting.

Ini akan menunjukkan padamu apakah kamu sudah benar-benar "hidup". Untuk semua bagian tubuh yang kamu beritahu padaku dulu, aku selalu berkata kamu salah dan aku telah memberitahukan kamu kenapa. Tapi, hari ini adalah hari di mana kamu harus belajar pelajaran yang sangat penting."

Dia memandangku dengan wajah keibuan. Aku melihat matanya penuh dengan air mata.
Dia berkata, "Sayangku, bagian tubuh yang paling penting adalah bahumu."

Aku bertanya, "Apakah karena fungsinya untuk menahan kepala?"
Ibu membalas, "Bukan, tapi karena bahu dapat menahan kepala seorang teman atau orang yang kamu sayangin ketika mereka menangis. Kadang-kadang dalam hidup ini, semua orang perlu bahu untuk menangis. Aku cuma berharap, kamu punya cukup kasih sayang dan agar teman-teman kamu selalu punya bahu untuk menangis kapan pun kamu membutuhkannya."

Akhirnya, aku tahu, bagian tubuh yang paling penting adalah tidak menjadi orang yang mementingkan diri sendiri. Tapi, simpati terhadap penderitaan yang dialamin oleh orang lain.

Orang akan melupakan apa yang kamu katakan...
Orang akan melupakan apa yang kamu lakukan...Tapi, orang TIDAK akan pernah lupa bagaimana kamu membuat mereka berarti.

Tuhan memberkati....

 

 

 

Source : Dua ikan lima Roti

Sabtu

Disaat Aku Tua

Disaat aku tua, bukan lagi diriku yang dulu
Maklumilah diriku, bersabarlah dalam menghadapiku
Disaat aku menumpahkan kuah sayuran di bajuku, disaat aku tidak bisa mengikat tali sepatuku
Ingatlah saat-saat bagaimana aku mengajarimu, membimbingmu untuk melakukannya
Disaat aku dengan pikunnya mengulang terus-menerus ucapan yang membosankanmu
Bersabarlah mendengarkanku, jangan memotong ucapanku. Dimasa kecilmu, aku harus mengulang dan mengulang terus sebuah cerita yang telah kuceritakan ribuan kali hingga dirimu terbuai dalam mimpi
Disaat aku membutuhkanmu untuk memandikanku
Janganlah menyalahkanku. Ingatkah di masa kecilmu, bagaimana aku dengan berbagai cara membujukmu untuk mandi?
Disaat aku kebingungan menghadapi hal-hal baru dan teknologi modern
Janganlah menertawaiku. Renungkanlah bagaimana aku dengan sabarnya menjawab setiap "mengapa" yang engkau ajukan di saat itu.
Disaat kedua kakiku terlalu lemah untuk berjalan
Ulurkanlah tanganmu yang muda dan kuat untuk memapahku. Bagaikan di masa kecilmu aku menuntunmu melangkahkan kaki untuk belajar berjalan
Disaat aku melupakan topik pembicaraan kita
Berilah sedikit waktu padaku untuk mengingatnya. Sebenarnya, topik pembicaraan bukanlah hal yang penting bagiku, asalkan engkau berada di sisiku untuk mendengarkanku, aku telah bahagia
Disaat engkau melihat diriku menua, janganlah bersedih. Maklumilah diriku, dukunglah aku, seperti aku terhadapmu disaat engkau mulai belajar tentang kehidupan.
Dulu aku menuntunmu menapaki jalan kehidupan ini, kini temanilah aku hingga akhir jalan hidupku. Berilah aku cinta kasih dan kesabaranmu, aku akan menerimanya dengan senyuman penuh syukur.
Didalam senyumku ini, tertanam kasihku yang tak terhingga padamu.

Truk Sampah

Suatu hari saya naik sebuah taksi dan menuju ke Bandara. Kami melaju pada jalur yang benar ketika tiba-tiba sebuah mobil hitam melompat keluar dari tempat parkir tepat di depan kami. Supir taksi menginjak pedal rem dalam-dalam hingga ban mobil berdecit dan berhenti hanya beberapa cm dari mobil tersebut.

Pengemudi mobil hitam tersebut mengeluarkan kepalanya dan mulai menjerit ke arah kami. Supir taksi hanya tersenyum dan melambai pada orang-orang tersebut. Saya benar-benar heran dengan sikapnya yang bersahabat. Maka saya bertanya,
"Mengapa anda melakukannya? Orang itu hampir merusak mobil anda dan dapat saja mengirim kita ke rumah sakit!" Saat itulah saya belajar dari supir taksi tersebut mengenai apa yang saya kemudian sebut "Hukum Truk Sampah".

Ia menjelaskan bahwa banyak orang seperti truk sampah... Mereka berjalan keliling membawa sampah, seperti frustrasi, kemarahan, kekecewaan. Seiring dengan semakin penuh kapasitasnya, semakin mereka membutuhkan tempat untuk membuangnya, dan seringkali mereka membuangnya kepada anda. Jangan ambil hati, tersenyum saja, lambaikan tangan, berkati mereka, lalu lanjutkan hidup.

Jangan ambil sampah mereka untuk kembali membuangnya kepada orang lain yang anda temui, di tempat kerja, di rumah atau dalam perjalanan. Intinya, orang yang sukses adalah orang yang tidak membiarkan "truk sampah" mengambil alih hari-hari mereka dengan merusak suasana hati.

Hidup ini terlalu singkat untuk bangun di pagi hari dengan penyesalan, maka:
Kasihilah orang yang memperlakukan anda dengan benar, berdoalah bagi yang tidak.
Hidup itu 10% mengenai apa yang kau buat dengannya dan 90% tentang bagaimana kamu menghadapinya.

Hidup bukan mengenai menunggu badai berlalu, tapi tentang bagaimana belajar menari dalam hujan.


source. bundapenolongabadi.com

LAKUKANLAH APA YANG MESTI DILAKUKAN

Kita bertemu dengan orang yang benar2 engkau kasihi,haruslah berusaha memperoleh kesempatan untuk bersamanya seumur hidupmu.
Karena ketika dia telah pergi,segalanya telah terlambat.

Saat bertemu teman yang dapat dipercaya, rukunlah bersamanya.
Karena seumur hidup manusia,teman sejati tak mudah ditemukan.

Saat bertemu Penolongmu, Ingatlah untuk bersyukur padaNya. Karena dialah yang mengubah hidupmu.

Saat bertemu orang yang pernah kau cintai, ingatlah dengan tersenyum untuk berterima kasih. Karena dialah orang yang membuatmu lebih mengerti tentang kasih.

Saat bertemu orang yang pernah kau benci, sapalah dengan tersenyum.
Karena dia membuatmu semakin teguh dan kuat.

Saat bertemu orang yang pernah mengkhianatimu, baik2lah berbincang dengannya. Karena jika bukan karena dia, hari ini kau tak memahami dunia ini.

Saat bertemu orang yang pernah diam2 kau cintai, Do'akanlah dia. Karena saat kau mencintainya, bukankah, berharap dia bahagia?

Saat bertemu orang yang tergesa2 meninggalkanmu, Berterimakasihlah bahwa dia pernah ada dalam hidupmu. Karena dia adalah bagian dari masa lalumu.

Saat bertemu orang yang pernah salah paham padamu, gunakan saat tersebut untuk menjelaskannya. Karena engkau mungkin hanya punya satu kesempatan itu saja untuk menjelaskan.

Saat bertemu orang yang saat ini menemanimu seumur hidup, berterimakasihlah sepenuhnya bahwa dia mencintaimu. Karena saat ini kalian mendapatkan kebahagiaan dan cinta sejati.

Saat membaca tulisan ini,
Renungkanlah...
Satu saat semua yang kita miliki harus DILEPASKAN... Karena di Dunia ini TAK ADA yg KEKAL ABADI..

Tuhan memberkati kita semua

Ave Maria !!!


Disadur dari : Bunda Penolong Abadi 

Kamis

KISAH SEORANG ANAK KECIL

Sekitar tahun lalu, saya melayani seorang anak kecil berumur 5 tahun untuk mengisi libur musim panas sebagai Babysitter. Dan masa itu adalah pekerjaan musim panas yang paling berkesan ! Maddie dan saya selalu berjalan jalan di taman setiap hari setelah makan siang. Maddie suka bermain ayunan dan perosotan di taman itu. Walaupun masih kecil, Maddie mempunyai hati yang baik, dan dia selalu membuat saya terkejut pada kasihya terhadap orang lain. Kedua orang tuanya pun juga sama - Selalu ada damai sejahtera diantara mereka. Saya selalu bertanya, mengapa mereka sangat berbeda dari orang orang lain?

Suatu hari di taman itu, saya sedang mendorong Maddie yang bermain ayunan, dan kami mendengar banyak anak anak kecil tertawa. Kami melihat ada sekelompok anak anak yang berkumpul di sebuah tempat di taman itu.

Maddie menyetop ayunannya, dan ingin pergi kesana untuk melihat apa yang sedang mereka tertawakan.

Kami berjalan, dan seorang anak laki-laki lari menuju Maddie dan mengatakan, "Ayo ke sini dan lihat orang perempuan aneh ini! Ia kotor dan berbau, menangis lagi!"

Maddie mendorong anak laki laki itu, dan menuju ke seorang wanita yang sedang duduk di tanah.

Wanita itu kelihatannya berumur sekitar 50 tahun, walaupun kemungkinan umurnya lebih muda. Karena terlihat kehidupannya sangat susah, dan anak laki-laki itu benar, orang itu berbau dan kotor. Suatu hal yang akan ku pikir akan kulakukan adalah memegang Maddie dan menyingkirkannya dari orang itu.

Ketika saya mencarinya, ternyata Maddie sudah duduk di samping wanita itu, dan memegang tangan orang itu. Orang itu melihat kepada Maddie dan tersenyum. Untuk beberapa detik lamanya orang itu rasanya tidak lagi berbau dan kotor, dia cantik!! Anak-anak yang lain akhirnya meninggalkan orang itu, dan Maddie memeluk orang itu, lalu Maddie meninggalkannya.

Di sepanjang jalan, Maddie menggumamkan sebuah nyanyian, dan berlompat-lompat kecil, sesuai kebiasaannya. Ia gembira, sepertinya tidak memikirkan kesusahan. Saya menunggu Maddie mengatakan sesuatu tentang wanita itu, tetapi ia tidak mengatakan sepatah katapun.

Akhirnya ketika sampai di rumah, saya tidak tahan lagi. Saya menghampiri Maddie dan berkata, "Mengapa kamu lakukan itu?"

Maddie bertanya balik, "Melakukan apa Julie ?" dan saya jawab, "Mengapa kamu memegang tangan dan memeluk orang itu sedangkan anak anak lain menertawainya dan menakut-nakutinya?"

Maddie menatap saya dan berkata, "Julie, Yesus tidak akan memperlakukan wanita itu seperti itu. Setiap orang menertawakan dan memperlakukan Yesus seperti apa yang mereka perbuat, tapi apa yang Yesus telah perbuat ! Dia sudah mati untuk kita di kayu salib.

Setiap kali saya melihat seseorang dipermalukan seperti itu, saya selalu pergi menemuinya, memeluk mereka, dan mengatakan bahwa Yesus mencintai mereka, hal itu selalu membuat mereka merasa menjadi lebih baik.

Saya yang berumur 23 tahun, seharusnya lebih pintar ! Tetapi anak berumur 5 tahun ini mengetahui lebih banyak daripada saya. Dan itulah Maddie !

Yesus, datang ke dunia yang kotor dan dingin ini, ditertawakan, diludahi, tetapi Dia mati untuk kita.

Saya berubah mulai hari itu, dunia terlihat berbeda, dan hal itu dikarenakan seorang anak perempuan kecil berumur 5 tahun yang telah memperlihatkan apa arti sebenarnya Kasih.

Sulaman

Ketika aku masih kecil, waktu itu ibuku sedang meyulam sehelai kain.
Aku yang sedang bermain di lantai, melihat ke atas dan bertanya, apa yang ia lakukan. Ia menerangkan bahwa ia sedang meyulam sesuatu di atas sehelai kain.
Tetapi aku memberitahu kepadanya, bahwa yang kulihat dari bawah adalah benang ruwet.
Ibu dengan tersenyum memandangiku dan berkata dengan lembut, "Anakku, lanjutkanlah permainanmu, sementara ibu menyelesaikan sulaman ini, nanti setelah selesai, kamu akan kupanggil dan kududukkan di atas pangkuan ibu dan kamu dapat melihat sulaman ini dari atas."
Aku heran, mengapa ibu menggunakan benang hitam dan putih, begitu sembrawut menurut pandanganku.
Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara ibu memanggil, "Anakku, mari ke sini, dan duduklah di pangkuan ibu."
Waktu aku lakukan itu, aku heran dan kagum melihat bunga-bunga yang indah, dengan latar belakang pemandangan matahari yang sedang terbit, sungguh indah sekali.
Aku hampir tak percaya melihatnya, karena dari bawah yang aku lihat hanyalah benang-benang ruwet.
Kemudian ibu berkata, "Anakku, dari bawah memang ruwet dan kacau, tetapi engkau tidak menyadari bahwa dia atas kain ini sudah ada gambar yang direncanakan, sebuah pola, ibu hanya mengikutinya." "Sekarang, dengan melihatnya dari atas, kamu dapat melihat keindahan dari apa yang ibu lakukan."
Sering selama bertahun-tahun, aku melihat ke atas dan bertanya kepada TUHAN, "apa yang Engkau lakukan?"
Ia menjawab, "Aku sedang menyulam kehidupanmu." Dan aku membantah, "Tetapi nampaknya hidup ini ruwet, benang-benangnya banyak yang hitam, mengapa tidak semuanya memakai warna yang cerah?
Kemudian TUHAN menjawab, "kamu teruskan pekerjaanmu, dan Aku juga menyelesaikan pekerjaan-Ku di bumi ini.
Suatu saat nanti Aku akan memanggilmu ke surga dan mendudukkan kamu di pangkuan-Ku, dan kamu akan melihat rencana-Ku yang indah dari sisi-Ku!"

SERING KALI KITA TIDAK MENGERTI APA YANG TUHAN INGINKAN DALAM HIDUP KITA ..
TAPI PERCAYALAH BAHWA SEMUA YANG TELAH DIA IJINKAN TERJADI DALAM HIDUP KITA ADALAH YANG TERBAIK...
 

Rabu

Tuhan Berkata

- Jika kau tak pernah merasa sakit, bagaimana kau tahu bahwa AKU penyembuh…?
- Jika kau tak pernah menghadapi kesulitan, bagaimana kau tahu bahwa AKU datang untuk menyelamatkanmu…?
- Jika kau tak pernah menghadapi pencobaan, bagaimana kau tahu bahwa AKU dapat menjadikanmu keluar sebagai pemenang…?
- jika kau tak pernah sedih,
bagaimana kau tahu bahwa AKU adalah penghibur…?
- Jika kau tak pernah berbuat kesalahan, bagaimana kau tahu bahwa AKU adalah pengampun…?
- Jika kau tak pernah hancur, bagaimana kau tahu bahwa AKU dapat memulihkanmu…?
- Jika kau tak pernah melalui api, bagaimana kau menjadi murni…?
- Jika kau tahu segala hal, bagaimana kau tahu bahwa AKU dapat menjawab pertanyaanmu…?
- Jika Aku memberikan semua barang kepadamu, bagaimana kau akan menghargainya…?
- Jika Aku tidak pernah mengoreksimu, bagaimana kau tahu bahwa AKU mengasihimu…?
- Jika kau punya semua kemampuan, bagaimana kau belajar bergantung kepada-KU…?
- Jika hidupmu sempurna, lalu untuk apa engkau memerlukan AKU…?
Bersyukurlah dengan apa yg ada pada diri kita dan apa yg terjadi dengan diri kita saat ini,
sebab sesulit apapun keadaanmu, sesungguhnya rancangan TUHAN selalu sempurna dan indah dalam hidup kita.
Percayalah…,
bahwa DIA sedang menenun karya yg terindah dalam hidup kita semua…!!!

Sabtu

BERBAGI MELALUI JALAN SALIB



Tidak seperti tema-tema APP tahun-tahun sebelumnya, tema APP 2011, “Mari Berbagi”, terkesan sederhana. Tema kali ini hanya terdiri dari 2 kata yang bahkan dapat dimengerti oleh anak kecil. Namun, semudah itukah makna dari tema tersebut dapat terungkap?

            Semua umat Katolik mengetahui bahwa APP (Aksi Puasa Pembangunan) merupakan sebuah sarana dari Gereja untuk mengamalkan setiap kebaikan yangterkandung dari setiap tema. Tema kali ini sangat mudah dimengerti karena berisi ajakan bagi kita untuk berbagi. Berbagi itu terkesan mudah, namun berbagi dalam arti yang sebenarnya tidak seperti membagikan kue pada teman baik kita. “Berbagi” yang terdapat dalam tema merupakan “berbagi” yang dapat diartikan secara multidimensi, tergantung pengetahuan dan iman orang yang mendengar atau membaca kalimat tersebut.

            Dalam artikel ini saya tidak akan mengajak pembaca untuk menelaah makna dari tema APP kali ini, namun saya akan mengajak pembaca sekalian untuk menengok sedikit ke wilayah 4 dan 5 J . Ada apa dengan wilayah 4-5?? Yap, pada 22 April 2011 yang lalu, Mudika St. Agustinus (wilayah 4 & 5) mengadakan visualisasi Jalan Salib secara teatrikal. Tablo Jalan Salib ini dimainkan oleh anggota mudika St. Agustinus, dengan bimbingan Sr. Hendrika, Bapak Suparman, serta Papi Michael Maturbongs dan Mami Siska Maturbongs. Ratusan umat di wilayah 4 dan 5 juga turut berpartisipasi dengan menyaksikan dan mengikuti Jalan Salib.

            Tanggal 22 April 2011 merupakan hari yang suci bagi umat Katolik, karena pada hari itulah umat Kristiani di seluruh dunia memperingati wafatnya Tuhan Yesus Kristus. Dalam arti yang berbeda, hari itu juga merupakan hari yang suci (sekaligus menegangkan tentunya) bagi kami, anggota Mudika St. Agustinus, karena kami akan menghayati sekaligus memerankan tokoh-tokoh dalam Kisah Sengsara Tuhan Yesus. Tapi mengapa mudika St. Agustinus memilih tablo Jalan Salib sebagai bentuk penghayatan akan tema APP  “Mari Berbagi”?

            Jalan Salib merupakan inti dari riwayat penebusan Tuhan Yesus Kristus, dimana pada saat itu Ia mengalami sengsara yang begitu hebat sebagai Allah dan sebagai manusia. Kalau pembaca jeli, bukankah Jalan Salib selalu dapat dikaitkan dengan tema APP setiap tahunnya? Pasti, dong. Jalan Salib merupakan sumber refleksi bagi umat KAtolik sehingga tema APP manapun dapat dimasukkan, termasuk tema “Mari Berbagi” tahun ini.

            ‘Kesediaan untuk berbagi’ memegang peranan yang begitu penting dalam Kisah Sengsara. Ada Simon dari Kirene yang mau berbagi tenaga dan peluh untuk membantu Yesus memanggul salib. Ada Veronika yang rela berbagi dengan mengusap wajah Yesus yang kotor. Ada wanita-wanita Yerusalem yang berbagi simpati pada Yesus. Ada juga Yusuf dari Arimatea yang berbagi dengan menyediakan kubur bagi Yesus, juga Bunda Maria yang turut merasakan sengsara Putera-Nya.

Yang paling utama adalah pengorbanan Yesus Kristus sendiri bagi kita umatNya. Yesus telah membagikan harta yang paling berarga milikNya yakni tahtaNya di Surga. Coba kalau Yesus tidak mau disalibkan, bagaimana bisa dosa-dosa kita tertebus? Coba kalau Yesus tidak mau ‘turun tahta’ dengan menjadi manusia, tentu manusia selamanya akan menjadi makhluk hina yang berdosa berat. Kalau saja Yesus tidak mau membagikan tubuh dan darahNya yang kudus bagi kita, tentu kita tidak akan mengenal Ekaristi dan umat Kristiani tidak akan muncul. Sungguh keadaan yang menyedihkan bila Tuhan Yesus tidak berbagi dengan kita semua.


Untuk meneladani pengorbanan Tuhan Yesus, anggota mudika St. Agustinus akhirnya memutuskan untuk kembali mengadakan tablo Jalan Salib. Beneran deh, makna “berbagi” itu sangat terasa. Dalam setiap latihan, kami berbagi makanan bersama, berbagi canda-tawa, berbagi kritik, berbagi pendapat, bahkan berbagi pengalaman. Berkat teladan dari Tuhan Yesus melalui Kisah SengsaraNya, setiap perbedaan pendapat dan pertengkaran dapat disikapi. Sulit memang, tapi inilah arti berbagi yang sebenarnya. Seperti janda miskin yang memberikan seluruh hartanya untuk Bait Allah, kami mencoba berbagi dengan sesama melalui pementasan tablo Jalan Salib. KAmi mencoba berbagi dalam segala kekurangan kami. Kami ingin mencoba membagikan teladan yang kami dapatkan dari Kisah Sengsara kepada umat melalui visualisasi dalam bentuk tablo yang lebih mudah dicerna daripada sekedar membaca ayat-ayat dari Kitab Suci.

            Sebenarnya, sejak tahun 2007, mudika St. Agustinus memiliki ‘tradisi’ untuk menampilkan tablo Jalan Salib setiap tahun (uups, buka kartu nih!). Hal itu juga yang mendasari kami untuk mementaskan tablo Jalan Salib pada pagi hari ketika Jumat Agung. Namun alasan utama kami tetaplah untuk mengamalkan pesan-pesan yang terkandung dalam tema APP “Mari Berbagi”. J

Tablo Jalan Salib kali ini dipersiapkan sejak Januari 2011. Mulai dari casting pemain, pemilihan narrator, persiapan naskah, latihan teater (olah tubuh, olah jiwa), juga persiapan artistik seperti kostum dan properti. Dalam perjalanan menuju hari ‘H’ kami sempat panik dan pesimis karena kekurangan pemain. Belum lagi cek-cok dan perbedaan pendapat yang sempat merenggangkan hubungan antar anggota. Namun akhirnya kami berusaha meredakan ego masing-masing, seiring dengan ‘munculnya’ muda-mudi yang terpanggil untuk berperan serta bersama kami, hingga akhirnya tablo jadi dipentaskan. Yipppii!!

Berbagi memang tidak semudah membalikkan telapak tangan; butuh pengorbanan dalam melaksanakannya. Namun selama kita mengandalkan Tuhan Yesus, pastinya kesulitan yang kita hadapi dalam berbagi berkurang berkat bimbinganNya. Ngga usah repot-repot bagi-bagi sembako atau uang jutaan, tapi dalam hal-hal kecil, sebuah tindakan berbagi yang dilandasi keikhlasan dapat membahagiakan hati sesame, dan tentunya hatiNya. Mari Berbagi!!!


Melisa Natasha Mumek
Anggota Mudika St. Agustinus (wilayah 4 dan 5)
Lingk. Yoh. Don Bosco, wil. V

Rabu

AKULAH ROTI KEHIDUPAN


Dalam Injil Yohanes, Yesus berkali-kali bicara tentang diri-Nya sendiri: “Aku Adalah” (=Akulah...). Untuk pertama kalinya Ia memperkenalkan diri-Nya sebagai AKU ADALAH dalam teks ini, sebagai Roti Kehidupan. Dalam bab-bab selanjutnya Ia akan menyebut diri-Nya “AKU ADALAH”: Terang dunia (8:12),  Pintu bagi domba-domba (10:7), Gembala yang baik (10:11), Kebangkitan dan hidup (11:25), Jalan, Kebenaran, dan Hidup (14:6), Pokok anggur (15:1). Aku Adalah adalah Nama-Nya. Siapa dan apa yang dikerjakan oleh-Nya, dijelaskan dalam ungkapan yang menyusul “Aku Adalah”.

Namun, kalau diperhatikan dengan baik-baik, Yesus yang memperkenalkan diri-Nya sebagai Allah (“Aku Adalah” mengingatkan nama yang menyatakan diri kepada Musa!) berkali-kali menegaskan pula bahwa Ia diutus, “turun” untuk melakukan bukan kehendak sendiri melainkan kehendak Bapa. Apa kehendak Bapa? Sebenarnya satu saja: supaya semua orang tetap “hidup”, tidak binasa, tidak hilang. Supaya semua manusia kelak dibangkitkan, diberi kehidupan baru yang penuh bahagia. Maka Yesus menyebut diri-Nya Roti Kehidupan.

Yesus mau “dimakan” oleh manusia, artinya didekati dan diakrabi begitu rupa, sehingga antara Dia dengan manusia tercipta persatuan yang tak terceraikan. Yesus tidak pusing mengenai “siapa” yang datang kepada-Nya! Sebab Ia diutus oleh Bapa untuk menyambut, menerima, dan menjadi makanan bagi siapa saja yang “dikirim” kepada-Nya oleh Bapa. Yesus sebenarnya tidak merekrut siapa-siapa. Sebab semuanya sudah direncanakan oleh Bapa-Nya yang di surga. Tugas Yesus hanya satu: menjadi roti bagi manusia, artinya menjamin kehidupan bagi manusia.

Luar biasa Yesus ini! Ia tidak pernah mementingkan diri-Nya sendiri. Ia sungguh datang untuk melayani. Tetapi, apakah saya sungguh mau menjadi seperti Dia? Artinya: melayani tanpa mencari keuntungan pribadi seidkit pun?

Ketika Doaku belum terjawab

Sampai di mana kita dapat mempercayai Allah? Ketika hidup berjalan sama sekali tidak sesuai dengan harapan kita, atau saat sakit penyakit dalam berbagai wujud muncul dengan kesembuhan yang terasa begitu jauh, atau saat penderitaan hidup datang akibat sikap-sikap keras kepala dan kesombongan manusia yang begitu parah, apakah kita tetap dapat mempercayai Allah? Ketika doa-doa yang kita panjatkan siang dan malam terasa belum menampakkan tanda-tanda akan dikabulkan, apakah kita tetap setia berharap akan pertolongan Allah atau mulai mencari jawaban di dalam kekuatan-kekuatan lain yang tidak dalam perkenanan Tuhan?Pada waktu seorang ayah membawa kepada Yesus anaknya yang kerasukan roh jahat sejak ia kecil sehingga membuat sang anak bisu dan tuli serta berkali-kali hendak dibinasakan oleh roh itu, Yesus menegur sang ayah, yang memohon dengan keragu-raguan terhadap kuasa Yesus, kataNya: “Katamu: Jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” (Markus 9: 23). Saya merenungkan kembali dalam doa saya selama ini apakah dalam hati saya juga mendahului permohonan saya kepada Tuhan dengan kata-kata “Jika Engkau dapat?” Tentu saja Tuhan dapat! Ia adalah Raja Semesta Alam! Sangat penting untuk senantiasa berdoa dengan penuh harapan kepada Allah dan membawa apapun yang kita butuhkan kepadaNya, dengan iman yang penuh bahwa Ia dapat berbuat apapun juga untuk menyelamatkan kita, yang mustahil bagi akal budi kita sekalipun. Tentang kapan dan bagaimana permohonan kita itu akan dikabulkan, itu adalah kebijaksanaan Allah, karena Dia tahu apa yang paling kita butuhkan, dan selalu memberikan yang apa terbaik dalam hidup kita, lebih dari yang kita tahu.
Apa yang sebenarnya paling saya butuhkan dalam hidup ini? Keinginan kita selalu berubah, kebutuhan kita juga demikian, seiring dengan dinamika dan perkembangan hidup kita. Apa yang dulu penting bagi kita sekarang tidak lagi, atau sebaliknya. Kita juga umumnya meminta supaya dijauhkan dari segala kesusahan, padahal sesungguhnya ada banyak sekali hadiah kehidupan, ketekunan, dan tahan uji, tersembunyi di dalam kesusahan hidup, yang membuat kita menjadi semakin tangguh, penuh iman dan kasih, serta bijaksana. Hal-hal yang sangat dibutuhkan oleh jiwa kita yang kering. Kita sering tidak tahu apa yang tepat bagi kita, dan bahkan kadang kita tidak tahu apa yang sebaiknya kita minta. Karena itulah, Tuhan tidak selalu mengabulkan doa kita, dan kadang Ia menunda sampai kita siap menerima jawaban doa-doa kita. Karena itulah, apa yang sesungguhnya kita perlukan sebenarnya adalah hikmat untuk bisa menghadapi hidup dengan kepercayaan yang teguh akan penyelenggaraanNya, apapun yang terjadi. Karena itulah, mengetahui apa yang sebetulnya paling kita butuhkan, inilah jawaban Tuhan atas doa-doa yang kita persembahkan dengan tulus kepadaNya, apapun itu, yaitu “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di Surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.“ (Lukas 11: 13b). Dan apa yang dilakukan oleh Roh Kudus bagi kita? Dia akan berdoa bagi kita dengan keluhan yang tidak terucapkan, bagi kebutuhan-kebutuhan jiwa kita yang sebenarnya, yang sering tidak kita sadari, sebab kita rancu dengan pengaruh riuh rendahnya dunia ini dengan segala kemegahan semu yang ditawarkannya, dan dengan segala norma-norma yang menjadi ukuran kebahagiaannya…. Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. (Roma : 8 – 26).
Ketika kita merasa ditinggalkan, saat kita merasakan sedih menyayat karena merasa sendiri di dalam penderitaan hidup, kita patut ingat akan kesepian dan kesedihan Yesus saat berdoa di Taman Getsemani. Bapa memang tidak mengabulkan doa permohonan Yesus untuk mengambil cawan yang hendak diminumNya, karena rencana agungNya harus digenapi. Tetapi seorang malaikat diutusNya untuk menguatkan Yesus di dalam kesengsaraanNya dan ketakutanNya sebagai manusia. “Ya BapaKu, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari padaKu, tetapi bukanlah kehendakKu melainkan kehendakMulah yang terjadi” Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepadaNya untuk memberi kekuatan kepadaNya. (Lukas 22 : 42-43).
Akhirnya, penghiburan Allah adalah sumber kekuatan kita yang tidak pernah kering. Saat kita merasa bahwa kesulitan hidup datang dan pertolongan seolah tak kunjung tiba, baiklah kita membaca kembali pernyataan Allah kepada umatNya, Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan Engkau (Yesaya 49 : 15) dan di dalam kesempatan lain Ia berfirman pula, Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13 : 5b). Dua kali Tuhan menggunakan kata “sekali-kali” atau yang artinya sebetulnya adalah “tidak akan pernah” meninggalkan kita. Justru di dalam kesukaran, kita akan semakin banyak mengalami penghiburan dan penyertaan Allah yang membuat jiwa kita sungguh dipuaskan dan terkagum-kagum akan kuasa kasih setiaNya.
Dan inilah seruan Yesus ketika Ia mengutus kita untuk hidup mewartakan Dia, “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir jaman” (Markus 28 : 20b). Jika Raja Semesta Alam berjanji, kita tahu bahwa janji itu tidak main-main. Tinggal apakah kita bersedia untuk tetap tenang percaya penuh pengharapan seperti Bapa Abraham dan Bunda Maria, dalam teladan iman mereka, tetap percaya sekalipun melangkah dalam segala ketidakpastian dan ketidakmengertian. Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: “Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.” (Yesaya 30 : 15).
Iman adalah kunci menuju kepenuhan penyelenggaraan Allah, penggenapan janjiNya, dan rencana agungNya dalam hidup kita. Begitu pentingnya iman itu sehingga pertanyaan Yesus kepada kita masing-masing adalah seperti yang tertuang dalam perumpamaan tentang hakim yang tak benar “Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihanNya yang siang malam berseru kepadaNya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” (Lukas 18 : 7-8).
Bagaimana tanggapan kita terhadap pertanyaan Yesus ini? Allah sesungguhnya sudah banyak memberikan jawaban dan janji akan penyertaanNya, melalui FirmanNya, dan melalui ajaran Tuhan kita Yesus Kristus, PuteraNya. Tinggal bagaimana kita merespon jawaban Allah itu dengan iman di dalam keseharian kita dalam hidup ini. (uti)

Sabtu

KISAH SENGSARA TUHAN YESUS 2011 oleh Mudika 45

Setelah berlatih kurag lebih 4 bulan, terhitung sejak Januari 2011, hingga 21 april 2011. Akhirnya pada hari jumat 22 april 2011, pukul 07.30 WIB, mudika 45 menggelar tablo Kisah Sengsara, yang bersamaan dengan ibadat Jalan Salib Wilayah 45, di Sekolah Bintang Kejora.
Sehari menjelang pementasan, tepatnya kamis, 21 april 2011, setelah tuguran. Para mudika menggelar gladi bersih , dan mengecek semua kesiapan perlengkapan dan peralatan pendukung tablo besok. Didampingi. Bpk. Suparman selaku Sutradara, dan Mariana Peni Tukan sebagai Asisten Sutradara, para mudika dengan tekum menjalani setiap sesi latihan, dan saling bahu membahu mempersiapkan kebutuhan tablo besok. Dan pada pukul 22.30 latihan selesai. Dan para mudika berdoa bersama memohon Rahmat Tuhan, agar pertunjukan esok hari dapat berjalan dengan lancar.
Pada hari Jumat. 22 april 2011, pukul 05.00 para mudika 45 berkumpul disekoalh Bintang Kejora, untuk melakukan Make up, dengan bantuan dari TIM Make up ( Devi, bu Prono, dan beberapa ibu – ibu dari wilayah ) selesai make up, para mudika langsung mengganti kostum sesuai dengan peran yang didapat, dan kemudian dilanjutkan dengan sarapan pagi yang telah disediakan oleh mami Siska, dan Melisa Natasha. TIM Dokumentasi pun turut mendokumentasikan setiap detail kejadian yang ada. ( Tim Dokumentasi terdiri dari Vigar,Nico, Pierre, dan Papi Micky ). Setelah semua sudah siap papi Micky memimpin doa untuk memulai pentas drama, sambil bergandengan tangan para pemain dengan khusyuk berdoa, ditutup oleh Doa Bapa Kami.
Pukul 07.30 setelah umat telah berkumpul dilapangan, para pemain “ Kisah Sengsara “ masuk dalam arena. Bpk. Suparman, selaku sutradara dibantu Bpk. Tjipto menyiapkan jalur perjalanan Jalan Salib, sementara Mariana Peni Tukan, memperkenalkan pada pemain kepada Umat. Dan akhirnya waktunya tiba, Mariana Peni Tukan sebagai Narator mulai membacakan detail Jalan Salib. Tim Dokumentasi pun dengan sangat aktif langsung mengabadikan setiap detail peristiwa, dan para umat pun turut berpartisipasi dengan penuh khikmat mengikuti Jalan Salib.
Tiap adegan yang dilakukan oleh para mudika, membuat suasana Jaln Salib menajdi sangat terasa, para umat juga terlihat sangat meresapi setiap adegan yang ditampilkan, umat berperan aktif menuruti arahan dari Bpk.  Suparman, dan Bpk. Tjipto untuk memberikan tempat bagi setiap jalur yang dilalui.
Para Umat juga merespon setiap kejadian, khusunya tiap adegan penyiksaan, tak jarang umat mencaci maki para algojo, yang dengan tak berperasaan menyiksa Yesus, hingga Yesus wafat dikayu Salib. Bahkan beberapa umat, dan suster meneteskan air mata karena merasa iba akan penderitaan Yesus, memanggul Salib.
Pada perhentian terakhir, ketika Yesus akan dikuburkan, dan para mudika berjalan membawa peti menuju Gua Maria, kami mendapat informasi bahwa pemeran Yesus, pingsan dikarenakan kondisi yang sangat lemah, akibat “ siksaan “ yang ia terima. Para ibu – ibu di Wilayah 45, membantu untuk mengobati luka – luka disekujur tubuh Chrisse, hingga Chrisse sadar. Dan para mudika pun menunjukkan kepeduliaan antar sesama mudika dengan langsung melihat kondisi Chrisse, setelah memberikan hormat kepada umat, yang menandakan drama telah selesai. Puji Tuhan , kondisi Chrisse kembali membaik, dan para mudika berkumpul diruang kelas untuk berbenah dan mengganti kostum, dan menyantap konsumsi yang talh disediakan.
Rasa bangga, senang, lelah, bercampur jadi satu para mudika dengan sangat semangat bercerita satu sama lain perihal drama yang baru saja terjadi. Para Suster, dan Umat, memunjukkan apresiasinya dengan memberikan selamat kepada para mudika yang telah sukses menggelar drama Kisah Sengsara Tuhan Yesus.
Akhir kata, kami para mudika 45 mengucapkan terima kasih, yang sebesar – besarnya kepada Tuhan Yesus Kristus, karena dengan RahmatNya, Drama Kisah Sengsara dapat berjalan dengan lancar, kepada para orang tua yang tlah mensupport anaknya utuk terlubat dalam pementasana Kisah Sengsara, kepada para suster yang mensupport tablo ini, kepada para pengurus lngkungan yang dengan penuh kesabaran membantu para mudika, juga kepada umat yang telah sangat berperan dalam drama ini.
Kru dan Pemain " Kisah Sengsara 2011 "
Sutradara
Bpk. Suparman
Assisten Sutradara
Mariana Peni Tukan
Yesus
Chrisse
Maria
Kristin Tukan
Pilatus
Jeffier Al Madinah
Yohanes
Matheus
Simon dari Kirene
Yoseven Andrias
Yusuf dari Arimatea
Iwan
Veronica
Kresensia Tifanny Hermanto
Wanita Menangis
Maria Goretti Silvia Chang

Fransiska Veliana

Sherly Floresta
Kepala Pasukan
Joe Yusuf Rafael
Algojo
Victor Dhanar Bumi Buana

William Januard

Stanley

Didit
Rakyat
Lyta Herawati

Yeyen Pratiwi

Alung

Vincent

Yoseph

Mario

Rani

Nico
Koor
Suster ADM
Make Up
Devy Tasmin

Bu Prono
Dokumentasi
Vigar

Nico

Papi Micky
Konsumsi
Mami Siska


Salam Kasih Tuhan,
Jakarta, 23 April 2011
mudika 45

Kamis

Hari Raya Paskah

HARI RAYA PASKAH



Mengapa disebut demikian dan kapan diangkat menjadi Liturgi Gereja?
Beberapa kata yang menunjuk pada kata Paskah adalah : Pesach (Ibr) atau Pasover (Ing) atau Pascha (Yun) berarti “lalu”. Kata lain untuk Pasover adalah Easter, namun arti kata Easter tidak menentu. Pandangan umum pada abad ke 8, kata Easter dikaitkan dengan pemujaan dewi musim semi orang-orang Anglo-Saxon (Ing) yang bernama Eostre. Dalam bahasa Romawi dan beberapa bahasa lain, kata Easter (Ing) lebih menunjuk pada kata Pesach (Ibr) atau Pasover.

Secara teologis dan liturgis, Paskah berakar pada kitab Perjanjian lama. Dalam Kitab Keluaran (Exodus) kata Paskah menunjuk tidak hanya “berlalunya” bencana dari orang-orang Yahudi di Mesir, tetapi juga “bebasnya” Israel dari perbudakan Mesir menuju tanah terjanji (Kanaan). Paskah Yahudi berarti perayaan syukur atas pembebasan (tulah dan perbudakan) dan persembahan hasil pertama dalam tahun. (Paskah Yahudi lihat Kel 12).
Paskah Yahudi selalu dirayakan berdasarkan kalender (penanggalan) yang berdasarkan siklus bulan (moon) yaitu pada hari ke 14 Nisan atau Abib (bulan pertama) dalam penanggalan Yahudi yang jatuh antara bulan Maret dan April. Sehingga dapat jatuh pada hari apa saja dalam pekan.
Paskah orang Kristen pertama dirayakan sebagai peringatan akan wafat (dan kebangkitan) Kristus yang disalib. Mereka merayakan Paskah pada hari Minggu pertama sesudah bulan purnama atau sesudah waktu siang dan malam sama lamanya atau siklus musim yang berkisar antara tanggal 22 Maret sampai 25 April (setelah 21 Maret).
Pada abad ke 2, karena adanya dua kalender yang digunakan untuk menentukan perayaan Paskah, maka timbul pertentangan dan Konsili Nicaea (tahun 325) menentukan perayaan Paskah yaitu pada hari Minggu sesudah hari ke 14 Nisan dan sesudah waktu siang dan malam sama lamanya, sebagai jalan tengah. Namun kesulitan muncul dengan harus diperhitungkannya kalender Yulianus yang berdasarkan siklus Matahari. Hingga abad ke 9 pertentangan tetap timbul, dan mulai teratasi dengan adanya kalender Gregorius pada tahun 1582, beberapa daerah lain mulai menyesuaikan.
Pengertian Paskah secara Teologis-Liturgis :
Tema pokok Paskah adalah perayaan wafat, kebangkitan, kenaikan dan turunnya Roh Kudus bagi Gereja. Paskah dipersiapkan dengan masa persiapan (Pra-Paskah / Puasa) dan diikuti 50 hari sesudahnya (masa Paskah) yang berakhir pada hari Pentakosta.
Paskah bukan hanya mengenangkan peristiwa masa lalu saja, tetapi sebagai ungkapan kematian dan kebangkitan Kristus dengan hidup baru yang dibagikan kepada umat yang percaya kepada-Nya.
Di dalam liturgi Paskah diikuti dengan pembaptisan, ini mengungkapkan bahwa orang yang dibaptis bebas dari dosa dan bangkit dengan hidup baru dalam Kristus. Pakaian putih para baptisan sebagai simbol, bahwa mereka terbebas dari kegelapan dosa oleh Terang Kristus yang bangkit.
Liturgi sekarang diawali dengan perarakan Lilin Paskah dalam kegelapan sebagai simbol Kristus yang bangkit adalah terang dunia yang menghalau kematian dan kegelapan dosa, kemudian menyusul Exultet yang mengingatkan kita akan Allah yang membebaskan umat-Nya di masa lampau.
Upacara liturgi ini hanya diadakan seandainya tidak ada upacara liturgi pada Malam Paskah atau banyak umat yang belum mengikuti upacara liturgi Vigili Paskah.
Warna Liturgis adalah Putih, lambang Kemuliaan dan Kegembiraan. Perayaan Ekaristi sama dengan Hari Minggu.
Untuk kita renungkan :
Yesus bangkit untuk apa dan bagi siapa? Selamat bangkit bersama Kristus Jaya, seraya bernyanyi “Alleluia”.

Malam Paskah

MALAM PASKAH



Mengapa disebut demikian? Bagaimanakah data sejarah penunjang liturgi tersebut hingga kini dalam Gereja?
Malam Paskah berarti malam menjelang Hari Raya Paskah, tepatnya malam Minggu. Hari Sabtu itu dalam liturgi Gereja disebut “Sabtu Suci”. Malam Paskah disebut juga “Vigili Paskah”. Istilah “vigili” berasal dari bahasa Latin “Vigilis”, yang berarti “Berjaga-jaga, siap siaga”. Oleh karena itu, Vigili Paskah berarti berjaga bersama Yesus Kristus yang yang beralih dari kematian menuju kebangkitan.

Sesuai dengan penghayatan iman kristiani, maka peringatan akan kemenangan Kristus atas dosa dan maut, telah dimulai pada upacara liturgi Malam Paskah.
Pada abad ke 2, peringatan sengsara maupun kebangkitan Kristus dirayakan atas cara yang sederhana. Menurut penghayatan Gereja pada waktu itu, pada Malam Paskah, Yesus melewati pintu gerbang kematian menuju kehidupan.
Bacaan Kitab Suci yang diwartakan dan direnungkan adalah antara lain pernyataan Paulus : “Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab Anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus” (1 Kor 5, 7)
Pada abad ke 3 ibadat Malam Paskah berlangsung pada malam hari. Pada malam itu pula diadakan upacara pembaptisan bagi para katekumen. Teks Injil Rom 6 tentang makna “mati dan bangkit bersama Kristus dan dua jenis perhambaan”, diwartakan dan direnungkan. Menurut data buku “Traditio Apostolica” (Sejarah Tradisi Para Rasul), yang dikarang oleh Hippolitus, maka Malam Paskah dan upacara pembaptisan berlangsung sampai ayam berkokok, dilanjutkan dengan perayaan ekaristi pada pagi hari.
Sejak abad ke 4, upacara Jumat Agung telah dipisahkan dari liturgi Malam Paskah dan Hari Raya Paskah. Malam Paskah merupakan rangkuman dari Triduum hari ketiga, berakhirnya masa puasa, namun tercipta saat rekonsiliasi, yang memuncak pada Hari Raya Paskah. Pada waktu itu, telah ditata bentuk litrugi Malam Paskah yang dikenal dengan upacara “Lilin Paskah” sebagai simbol Cahaya Kristus yang mengalahkan dosa dan maut. Tradisi tersebut berlangsung sampai abad ke 14, namun upacara cahaya diadakan pada pagi hari, sehingga simboliknya menghilang dari penghayatan iman umat.
Pada tahun 1951, abad ke 20, Paus Pius XII melalui dekritnya “Ad Vigiliam Paschalem” (tentang Vigili Paskah), tepatnya 9-Februari-1951, menetapkan bentuk upacara liturgi Malam Paskah yang dikenal hingga saat ini dalam liturgi Gereja.
Upacara liturgi terdiri dari 4 bagian, yaitu upacara cahaya, liturgi sabda, upacara pembatisan dan liturgi ekaristi. Dalam upacara cahaya, imam memberkati Api Baru di luar Gereja di depan pintu gerbang utama, menandai Lilin Paskah dengan tanda salib angka tahun yang bersangkutan, menancapkan 5 biji dupa simbol luka-luka Kristus, melingkari dua abjad Yunani yakni Alpha dan Omega (Awal dan Akhir). Lilin Paskah dinyalakan dari Api Baru. Diakon membawa Lilin Paskah tersebut (jika tidak ada diakon, berarti imam itu sendiri), tiga kali berhenti seraya menyanyikan “Lumen Christi” (Cahaya Kristus) di tengah kegelapan ruangan gereja, maka umat serentak menjawab “Deo Gratias” (Syukur kepada Allah), seraya menyalakan lilin-lilin yang dipegang dan berlutut tanda hormat ke arah lilin utama tersebut.
Jika sudah tiba di panti imam, maka lampu-lampu dinyalakan, dilanjutkan dengan “Exultet” (Madah Pujian Paskah) oleh diakon atau oleh imam. Menyusul liturgi sabda dengan sembilan kutipan teks Kitab Suci Perjanjian Lama dan Baru. Setiap bacaan diselingi dengan lagu dan doa singkat dalam suasana hening. Tersedia tujuh bacaan Kitab Suci Perjanjian Lama, tiga kutipan wajib yakni Kisah Penciptaan, Kisah Pengorbanan Ishak dan Penyeberangan Laut Merah. Sedangkan empat bacaan lainnya diambil dari kutipan Kitab Para Nabi, namun sifatnya fakultatif.
Bacaan Kitab Suci Perjanjian Baru, diambil dari Rom 6, 3-11, menyusul madah pujian “Alleluia”, dilanjutkan dengan kutipan Injil mengenai peristiwa Kebangkitan menurut kalender tahun liturgi yang bersangkutan.
Sesudah homili singkat, dilanjutkan dengan upacara pemberkatan air baptis dan air suci, yang diawali dengan “Litani Para Kudus”. Jika ada katekumen yang telah siap untuk dibaptis, maka diterimakan “Sakramen Permandian” dan Krisma jika upacara liturgi dipimpin oleh seorang Uskup.
Sesudah pembaharuan janji baptis dalam bentuk tanya jawab antara imam dan umat, maka umat diperciki dengan Air Suci, sesudahnya dilanjutkan dengan liturgi ekaristi. Jika ada neobaptis, maka akan menerima Komuni Pertama.
Ternyatalah bahwa liturgi Malam Paskah mengandung unsur-unsur yang sama dengan tradisi yang hidup dan berkembang dari jaman ke jaman, dari generasi ke generasi hingga kini. Teristimewa setelah adanya penataan kembali “Upacara Vigili Paskah” pada tahun 1951, masih terlihat dan terasa dampaknya terhadap upacara liturgi Malam Paskah sebagaimana terdapat dalam “Missale Romanum”, dengan struktur dasarnya yang tebagi atas :
· Upacara Cahaya : Pemberkatan Api, pemberkatan lilin, perarakan dan pujian Paskah.
· Liturgi Sabda : Bacaan Kitab Suci Perjanjian Lama dan Baru
· Liturgi Pembaptisan : Pemberkatan Air Baptis, pembaptisan, pemberkatan Air Suci, pembaharuan janji baptis.
· Liturgi Ekaristi : warna liturgi adalah putih, upacara liturgi berlangsung sore atau malam hari.
(Bacaan 1 : Kej 1:1,26-31a Bacaan 2 : Kej 22:1-2,9a,10-13,15-18 Bacaan 3 : Kel 14:15–15:1 Bacaan 4 : Yes 54:5-14 Bacaan 5 : 55:1-11 Bacaan 6 : Bar 3:9-15,32-4:4 Bacaan 7 : Yeh 36:16-17a,18-28 Epistola : Rm 6:3-11
Injil A : Mat 28:1-10 Injil B : Mrk 16:1-7 Injil C : Luk 24:1-12)
Untuk kita renungkan :
Pada Malam Paskah, Yesus Kristus Tuhan kita beralih dari kematian menuju kepada hidup. Kita memperoleh hidup baru lewat Air Sakramen Permandian atau Baptisan. Kita memperoleh pemahaman baru mengenai hidup lewat Terang Kristus melalui simbolik Lilin Paskah.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More